SISTEM URINARY
SISTEM
URINARY
Sistem perkemihan merupakan sistem ekskresi utama dan terdiri
atas 2 ginjal (untuk menyekresi urine), 2 ureter (mengalirkan urine dari ginjal
ke kandung kemih), kandung kemih (tempat urine dikumpulkan dan disimpan
sementara), dan uretra (mengalirkan urine dari kandung kemih ke luar tubuh
Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan
1. Ginjal Ginjal terletak
secara retroperitoneal, pada bagian posterior abdomen, pada kedua sisi kolumna
vertebra. Mereka terletak antara vertebra torakal keduabelas dan lumbal ketiga.
Ginjal kiri biasanya terletak sedikit lebih tinggi dari ginjal kanan karena
letak hati. Ginjal orang dewasa secara rata – rata memiliki panjang 11 cm,
lebar 5 – 7,5 cm, dan ketebalan 2,5 cm. Hal yang menahan ginjal tetap pada
posisi di belakang peritonium parietal adalah sebuah masa lemak peritoneum
(kapsul adiposa) dan jaringan penghubung yang disebut fasia gerota (subserosa)
serta kapsul fibrosa (kapsul renal) membentuk pembungkus luar dari ginjal itu
sendiri, kecuali bagian hilum. Ginjal dilindungi lebih jauh lagi oleh lapisan
otot di punggung pinggang, dan abdomen, selain itu juga oleh lapisan lemak,
jaringan subkutan, dan kulit (Black & Hawk, 2014).
Bila dibelah bagian dalam, ginjal mempunyai tiga bagian
yang berbeda, yaitu korteks, medula, dan pelvis. Bagian eksternal, atau korteks
renal, berwarna terang dan tampak bergranula. Bagian ginjal ini berisi
glomerulus, kumpulan kecil kapiler. Glomerulus membawa darah menuju dan membawa
produk sisa dari nefron, unit fungsional ginjal (LeMone, 2015).
Satuan fungsional ginjal disebut nefron. Setiap ginjal
mempunyai lebih kurang 1 - 1,3 juta nefron yang selama 24 jam dapat menyaring
170 – 180 liter darah dari arteri renalis (Syaifuddin, 2011). Ginjal tidak
dapat membentuk nefron baru. Oleh karena itu, pada trauma ginjal, penyakit
ginjal, atau proses penuaan yang normal, akan terjadi penurunan jumlah nefron
secara bertahap. Setelah usia 40 tahun, jumlah nerfron yang berfungsi biasanya
menurun kira – kira 10 persen setiap 10 tahun; jadi, pada usia 80 tahun, jumlah
nefron berfungsi 40 persen lebih sedikit ketika usia 40 tahun. Setiap nefron
terdiri atas: (1) kumpulan kapiler disebut glomerulus, yang akan memfiltrasi
sejumlah besar cairan dan darah, dan (2) tubulus panjang tempat cairan hasil
filtrasi diubah menjadi urine dalam perjalanannya menuju pelvis ginjal (Guyton
& Hall, 2014).
Nefron dan
Pembuluh Darah
Pembentukan urine proses
seluruhnya oleh nefron melalui tiga proses, yaitu filtrasi glomerulus,
reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus (LeMone, 2015).
a. Filtrasi Glomerulus. Filtrasi glomerulus adalah
sebuah proses pasif, yaitu tekanan hidrostatik mendorong cairan dan zat
terlarut melewati suatu membran. Jumlah cairan yang disaring dari darah ke
dalam kapsul per menit disebut laju filtrasi glomerulus. Tiga faktor yang
mempengaruhi laju ini, yaitu total area permukaan yang ada untuk filtrasi,
permeabilitas membran filtrasi, dan tekanan filtrasi bersih. Tekanan filtrasi
bersih berperan untuk pembentukan filtrat dan ditentukan oleh dua gaya: gaya
dorong (tekanan hidrostatik) dan gaya tarik (tekanan osmotik). Tekanan
hidrostatik glomerulus mendorong air dan zat terlarut menembus membran. Tekanan
ini dilawan oleh tekanan osmotik di glomerulus (terutama tekanan osmotik
koloid protein plasma dalam darah glomerulus) dan tekanan hidrostatik kapsul yang
dikeluarkan oleh cairan dalam kapsul glomerulus.
b. Reabsorpsi Tubulus. Reabsorbsi tubulus adalah proses yang
dimulai saat filtrat memasuki tubulus proksimal. Pada ginjal sehat, hampir
semua nutrien organik (seperti glukosa dan asam amino) direabsorpsi. Namun,
tubulus secara konstan mengatur dan menyesuaikan laju serta tingkat reabsorpsi
air dan ion sebagai respon terhadap sinyal hormonal. Reabsorbsi dapat terjadi
secara aktif dan pasif. Zat yang didapat kembali melalui reabsorpsi tubulus
aktif biasanya bergerak melawan gradien listrik dan/ atau kimia. Zat – zat ini,
termasuk glukosa, asam amino, laktat, vitamin, dan sebagian besar ion,
membutuhkan ATP-dependent carrier untuk dipindahkan ke ruang interstisial. Pada
reabsorpsi tubulus pasif, yang mencakup difusi dan osmosis, zat bergerak di
sepanjang gradiennya tanpa mengeluarkan energi.
c. Sekresi Tubulus. Proses akhir pembentukan urine
adalah sekresi tubulus, yang merupakan reabsorpsi balik yang penting. Zat
seperti ion hidrogen dan kalium, kreatinin, amonia, dan asam organik bergerak
dari darah di kapiler peritubulus menuju tubulus itu sendiri sebagai filtrat.
Dengan demikian, urine terdiri atas zat yang disaring dan disekresi. Sekresi
tubulus sangat diperlukan untuk membuang zat yang tidak ada dalam filtrat, seperti obat – obatan. Proses ini membuang zat yang
tidak
diinginkan yang
telah direabsorpsi oleh proses pasif dan menghilangkan
ion kalium tubuh yang berlebihan. Sekresi tubulus juga merupakan kekuatan penting dalam
pengaturan pH darah.
Glomerulus Filtrasi Rate (GFR) terukur dianggap sebagai cara yang paling akurat mendeteksi perubahan fungsi ginjal. Nilai normal GFR adalah 90 –
120 mL/menit.
Estimate GFR (eGFR) dapat digunakan untuk menghitung
fungsi ginjal berdasarkan pada kreatinin serum, usia, dan jenis kelamin. National Kidney
Foundation merekomendasi bahwa eGFR dapat dihitung secara otomatis setiap kali dilakukan pemeriksaan kreatinin (LeMone,
2015).
2. Ureter
Ureter membentuk cekungan di medial pelvis renalis pada hilus ginjal. Biasanya sepanjang
25 – 35 cm di orang
dewasa, ureter terletak di jaringan penghubung ekstraperitoneal dan memanjang secara vertikal sepanjang
otot psoas menuju ke pelvis. Setelah masuk ke rongga pelvis, ureter
memanjang ke anterior untuk bergabung
dengan kandung kemih di bagian
posterolateral. Pada setiap sudut ureterovesika, ureter terletak secara
oblik melalui dinding kandung kemih sepanjang 1,5 – 2 cm sebelum masuk ke ruangan
kandung kemih
(Black & Hawks, 2014).
Ureter mempunyai tiga penyempitan sepanjang perjalanannya, yaitu: (1) ditempat
pelvis renalis berhubungan
dengan ureter, (2) di tempat
ureter melengkung
pada waktu menyilang apertura perlvis superior, (3) di tempat ureter menembus dinding vesica urinaria (Snell, 2011). Pembuluh darah yang
memperdarahi ureter adalah arteri renalis, arteri spermatika interna, arteri hipogastrika, dan arteri vesikalis inferior. Persarafan ureter cabang
dari pleksus mesenterikus inferior, pleksus spermatikus,
dan pleksus pelvis. Sepertiga bawah dari ureter
terisi sel – sel saraf yang bersatu dengan rantai aferen dan nervus vagus. Rantai aferen dari nervus torakalis XI, XII, dan nervus
lumbalis .
3. Kandung Kemih
Kadung kemih adalah organ kosong yang
terletak pada separuh anterior dari pelvis, di belakang
simfisis pubis. Jarak antara kandung kemih dan simfisis
pubis diisi oleh jaringan penghubung yang longgar, yang memungkinkan kandung kemih untuk melebar ke arah kranial ketika terisi. Peritonium melapisi tepi atas dari
kandung kemih, dan bagian dasar ditahan secara longgar oleh ligamen sejati. Kandung kemih juga dibungkus oleh sebuah
fasia yang longgar (Black & Hawks, 2014).
Dinding ureter mengandung
otot polos yang
tersusun dalam berkas spiral longitudinal dan
sirkuler. Kontraksi peristaltik
teratur 1 – 5 kali/menit
menggerakan urine
dari pelvis renalis ke vesika urinaria, disemprotkan
setiap gelombang peristaltik. Ureter berjalan miring melalui dinding vesika urinaria untuk menjaga ureter tertutup kecuali selama gelombang peristaltik dan
mencegah urine tidak kembali
ke ureter (Syaifuddin,
2011).
4. Uretra dan Meatus
Uretra adalah sebuah saluran yang keluar dari dasar kandung kemih ke permukaan tubuh. Uretra pada laki – laki dan perempuan memiliki
perbedaan besar. Uretra perempuan memiliki panjang
sekitar 4 cm dan sedikit melengkung ke depan ketika mencapai bukaan keluar, atau meatus, yang terletak di antara klitoris dan lubang vagina. Pada laki – laki, uretra merupakan
saluran gabungan untuk sistem reproduksi dan
pengeluaran
urine. Uretra pada lakui – laki memiliki panjang
sekitar 20 cm, dan terbagi
dalam 3 bagian utama. Uretra pars prostatika menjulur sampai 3 cm di
bawah leher kandung kemih, melalui kelenjar prostat, kedasar panggul.
Uretra pars membranosa memiliki panjang
sekitar 1 – 2 cm dan berakhir di mana lapisan otot membentuk sfingter eksterna. Bagian distal adalah kavernosa, atau penis uretra. Sepanjang
sekitar 15 cm, bagian ini melintas melalui penis
ke orifisum uretra pada ujung penis (Black & Hawks, 2014).
B. Konsep End
stage renal disease (ESRD)
1. Pengertian
End stage renal disease (ESRD) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel dan progresif dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga menyebabkan uremia. Uremia adalah suatu sindrom klinik dan
laboratorik yang
terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal
pada penyakit ginjal kronik. Pada keadaan tidak terdapat kerusakan ginjal lebih dari 3 bulan dan laju filtrasi glomerulus sama atau lebih dari 60
ml/menit/1,7m2, tidak termasuk kriteria penyakit ginjal kronik (Black &Hawks, 2014).
End stage renal disease adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia
(urea dan limbah nitrogen lainnya
beredar dalam darah serta komplikasinya jika
tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal) (Nursalam, 2011). End stage renal disease adalah perburukan fungsi ginjal yang lambat, progresif, dan irrefersibel yang menyebabkan ketidakmampuan ginjal untuk membuang produk
sisa dan
mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Akhirnya ini mengarah ke penyakit ginjal stadium akhir dan membutuhkan terapi pengganti ginjal
untuk mempertahankan
hidup (Patricia, 2011).
Penyakit end stage renal disease adalah
suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang
beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunanfungsi ginjal yang irreversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Setiati,2014).
Penyakit ginjal
kronik adalah suatu kondisi ginjal yang mengalami penurunan fungsi disebabkan yang
beragam, menyebabkan kerusakan
jaringan ginjal progresif dan kehilangan fungsi. Unit nefron hilang
dan masa ginjal berkurang, dengan perburukan progresif pada filtrasi glomerulus, sekresi tubulus, dan
reabsorpsi.
Ginjal tidak dapat mengekskresikan sisa
metabolik dan mengatur keseimbangan cairan
dan elektrolit secara adekuat, kondisi yang
disebut sebagai gagal ginjal atau penyakit ginjal stadium akhir/ end stage renal disease (LeMone, 2015).
Gagal ginjal
terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut
sampah metabolik tubuh atau melakukan fungsi regulernya. Suatu bahan yang
biasanya dieliminasi di urin menumpuk dalam cairan
tubuh akibat gangguan ekskresi renal dan
menyebabkan gangguan
fungsi endokrin dan
metabolic, cairan, elektrolit, serta asam basa. Gagal ginjal merupakan penyakit sistemik
dan merupakan jalur akhir yang
umum dari berbagai penyakit traktus
urinarius dan ginjal.
2. Etiologi
Etiologi penyakit ginjal kronik sangat bervariasi, penyebab utama dan insiden penyakit ginjal kronik di Amerika Serikat adalah
diabetes meletus, hipertensi, glomerulonefritis, nefritis interstisialis, dan penyakit lain (Setiati,
2014). Sedangakan, Perhimpunan Nefrologi Indonesia
mencatat penyebab gagal ginjal adalah glomerulonephritis, diabetes mellitus, obstruksi dan infeksi, hipertensi dan sebab lain. Yang dikelompokkan dalam sebab lain adalah nefritis lupus, nefropati urat, intoksikasi obat, penyakit ginjal
bawaan,
tumor ginjal,
dan penyebab yang tidak
diketahui (Sudoyo, 2009).
Penyebab gagal ginjal
beragam diantaranya adalah glomerulonefritis kronis, ARF,
penyakit ginjal polikistik, obstruksi, pielonefritis berulang, dan
nefrotoksin. Penyakit sistemik,
seperti
diabetes meletus, hipertensi, lupus eritematosus, dan
poliarteritis dapat menyebabkan end
stage renal disease (Black & Hawks, 2014).
3. Manifestasi Klinis
Penyakit ginjal kronik seringkali tidak teridentifikasi hingga tahap uremik akhir
tercapai. Uremia, yang
secara harfiah berarti
urine dalam darah, adalah sindrom atau kumpulan gejala yang terkait dengan end stage renal disease. Pada
uremia, keseimbangan cairan dan elektrolit terganggu, pengaturan dan fungsi endokrin ginjal rusak, dan akumulasi produk sisa secara esensial
memengaruhi setiap sistem organ lain. Manifestasi awal uremia
mencakup mual, apatis, kelemahan, dan keletihan, gejala kerap kali keliru
dianggap sebagai infeksi virus atau influenza. Ketika kondisi memburuk, muntah sering, peningkatan kelemahan, letargi, dan kebingungan muncul (LeMone,2015).
Pada insufisiensi ginjal, dapat timbul polyuria karena ginjal tidak mampu
memekatkan urin. Pada gagal ginjal, pengeluaran urin turun akibat Glomerular Filtration
Rate (GFR) yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan peningkatan
beban
volume, ketidakseimbangan elektrolit, asidosis
metabolik, azotemia, dan uremia. Pada penyakit ginjal
stadium akhir, terjadi azotemia dan uremia berat. Asidosis metabolik memburuk, yang
secara mencolok merangsang kecepatan
pernafasan. Timbul hipertensi, anemia,
osteodistrofi, hyperkalemia, ensefalopati uremik, dan pruritus. Dapat terjadi gagal jantung
kongestif dan pericarditis. Tanpa pengobatan
maka akan terjadi
koma dan kematian (Corwin, 2001).
Gambaran klinik klien end stage renal disease menurut Sudoyo (2009) meliputi;
a. Sesuai dengan penyakit yang mendasari seperti diabetes mellitus, infeksi traktus urinarius,
batu traktus urinarius,
hipertensi dan
hiperurikemia, dan lain
sebagainya.
b. Sindrom uremia yang terdiri dari lemah, letargi, anorexia, mual dan muntah, nokturia, kelebihan volume cairan, neuropati perifer,
pruritus,
pericarditis, kejang sampai koma.
c.
Gejala komplikasinya antara lain hipertensi, anemia,
payah jantung, asidosis metabolic, gangguan keseimbangan elektrolit.
4. Stadium End
stage renal disease
Stadum penyakit ginjal kronik didasarkan atas dua
hal yaitu, atas derajat (stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologis. Menurut Sudoyo (2009), stadium berdasarkan derajat penyakit,
dibuat atas dasar Laju Filtrasi Glomerulus (GFR) yang dihitung dengan mempergunakan rumus Cockroft-
Gault
5. Patofisiologi.
Patofisiologi end stage renal disease beragam, tergantung pada proses penyakit penyebabnya. Proses patologi umum yang
menyebabkan
kerusakan nefron, end stage
renal disease, dan gagal ginjal. Tanpa
melihat penyebab awal, glomeruloklerosis dan
inflamasi interstisial
dan fibrosis adalah ciri khas end stage renal disease dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal (Copstead & Banasik, 2010). Seluruh unit nefron secara bertahap hancur. Pada tahap awal, saat nefron hilang, nefron fungsional yang masih ada mengalami hipertofi. Aliran kapiler glomerulus dan tekanan meningkat dalam nefron ini dan lebih banyak partikel zat terlarut disaring untuk mengkompensasi massa ginjal yang hilang. Kebutuhan yang
meningkat ini menyebabkan nefron yang masih ada mengalami sklerosis (jaringan parut) glomerulus, menimbulkan kerusakan nefron pada akhirnya. Proteinuria akibat kerusakan glomerulus diduga menjadi penyebab cedera
tubulus. Proses hilangnya fungsi nefron yang
kontinu ini dapat terus berlangsung meskipun setelah proses penyakit awal telah teratasi
(Fauci et al., 2008).
Perjalanan end stage renal disease beragam, berkembang selama periode
bulanan hingga tahunan. Pada tahap awal, seringkali disebut penurunan cadangan ginjal, nefron yang tidak terkenan mengkompensasi nefron yang
hilang. GFR sedikit turun dan pada pasien asimtomatik disertai BUN dan kadar kreatinin serum normal. Ketika penyakit berkembang dan GFR turun
lebih lanjut, hipertensi dan beberapa
manifestasi insufisiensi ginjal dapat
muncul. Serangan berikutnya
pada ginjal di tahap ini (misalnya
infeksi, dehidrasi, atau obstruksi saluran kemih) dapat menurunkan fungsi dan memicu awitan gagal ginjal atau uremia nyata lebih lanjut. Kadar serum kreatinin dan BUN naik secara tajam, klien menjadi oliguria, dan manifestasi uremia muncul. Pada end stage renal
disease tahap akhir, GFR
kurang
dari 10% normal dan terapi pengganti ginjal diperlukan untuk mempertahankan
hidup (LeMone,
2015).
Pada stadium palingdini penyakit ginjal kronik, terjadi kehilangan daya cadang ginjal, pada keadaan mana basal LFG masih normal atau malah meningkat. Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan terjadi penurunanfungsi nefron yang progresif, yang ditandai oleh peningkatan kadar urea dan
kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60%, klien masih belum
merasakan keluhan, tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin
serum. Sampai pada LFG
sebesar
30%, mulai terjadi keluhan pada klien
seperti nokturia, badan lemah,
mual, nafsu makan kurang, dan penurunan berat badan. Sampai pada LFG dibawah 30%, klien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata seperti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolism fosfor
dan kalsium, pruritus, mual, muntah dan lain
sebagainya. Klien
juga mudah terkena infeksi saluran kemih, infeksi saluran nafas, maupun
infeksi saluran cerna. Juga akan terjadi gangguan
keseimbangan air seperti hipo atau hypervolemia, gangguan keseimbangan elektrolit antara
lain natrium dan kalium. Pada LFG dibawah 15% akan terjadi gejala dan komplikasi yang
lebih serius, dan klien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal antara
lain dialysis atau
transplantasi ginjal. Padakeadaan in klien dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal (Sudoyo,2009).
6. Penatalaksanaan.
Pada umumnya keadaan sudah sedemikian rupa sehingga etiologi tidak
dapat diobati lagi. Usaha
harus ditunjukan untuk mengurangi gejala, mencegah kerusakan/
pemburukan faal ginjal (Yuli,
2015).
a. Pengaturan Minum
Pengaturan minum dasarnya adalah memberikan cairan sedemikian
rupa sehingga dicapai diurisis maksimal. Bila cairan tidak dapat diberikan per oral maka
diberikan per parental. Pemberian yang berlebihan dapat menimbulkan penumpukan di dalam rongga badan dan dapat
membahayakan seperti hipervolemia yang sangat sulit
diatasi.
b. Pengendalian Hipertensi
Tekanan darah sedapat mungkin harus dikenadalikan. Pendapat yang menyatakan penurunan tekanan darah selalu memperburuk faal ginjal
tidaklah
benar.
Dengan obat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi faal ginjal, misalnya dengan beta bloker, alpa metildopa, vasoldilator.
Mengurangi intake garam dalam rangka ini harus hati – hati karena
tidak semua renal failure disertai retensi Natrium.
c. Pengendalian K dalam Darah
Pengendalian kalium darah sangat penting, karena peninggian K
dapat
menimbulkan kematian mendadak. Yang pertama harus diingat adalah
jangan menimbulkan hiperkalemia karena tindakan kita sendiri seperti obat – obatan,
diet buah dan lain – lain. Selain
dengan pemeriksaan darah, hiperkalemia juga dapat didiagnosa dengan EEG dan EKG. Bilaterjadi hiperkalemia maka pengobatannya dengan mengurangi intake
K, pemberian Na Bikarbonat
dan pemberian infuse glukosa.
d. Penanggulangan
Anemia
Anemia merupakan masalah yang sulit ditanggulangi pada end stage renal disease. Usaha pertama harus ditujukan mengatasi faktor
defisiensi, kemudian mecari apakah ada perdarahan yang mungkin dapat
diatasi. Pengendalian gagal ginjal pada keseluruhan akan dapat meningkatkan Hb. Transfusi darah hanya dapat diberikan
bila indikasi yang kuat, misalnya ada insufisiensi koroner.
e. Penanggulangan
Asidosis
Pada umumnya asidosis baru bergejala pada taraf lebih lanjut. Sebelum memberi pengobatan yang
khusus faktor lain harus diatasi terlebih dahulu,
khususnya dehidrasi. Pemberian asam melalui makanan dan obat – obatan harus
dihindari. Natrium bikarbonat dapat diberikan
per oral atau parenteral. Pada
pemulaan 100 mEq natrium bikarbonat diberi
intravena perlahan – lahan, kalau perlu diulang. Hemodialisa dan dialisis peritoneal dapat juga mengatasi
asidosis.
f. Pengobatan dan Pencegahan Infeksi
Ginjal yang sakit lebih mudah mengalami infeksi dari pada biasanya. Klien end stage renal disease dapat
ditumpangi pyelonefritis di atas penyakit dasarnya. Adanya pyelonefritis ini tentu memperburuk lagi faal ginjal. Obat – obat antimikroba
diberi bila ada
bakteri uria dengan
perhatian khusus karena
banyak diantara obat – obat yang toksik
terhadap ginjal atau keluar melalui ginjal. Tindakan yang
mempengaruhi saluran kencing seperti kateterisasi sedapat mungkin harus dihindarkan.Infeksi ditempat lain secara tidak langsung dapat pula menimbulkan permasalahan yang sama dan pengurangan faal ginjal.
g. Pengurangan Protein dalam Makanan
Protein dalam makanan harus diatur. Pada
dasarnya jumlah protein
dalam makanan dikurangi, tetapi tindakan ini jauh lebih menolong juga
bila protein tersebut dipilih. Diet dengan rendah protein yang mengandung asam amino esensial, sangat menolong
bahkan dapat
dipergunakan pada klien end stage renal disease untuk mengurangi jumlah
dialisis.
h. Pengobatan Neuropati
Neuropati timbul pada keadaan yang lebih lanjut. Biasanya neuropati ini sukar diatasi dan merupakan salah satu indikasi untuk dialisis. Pada klien yang sudah
dialisispun neuropati masih dapat timbul.
i. Dialisis
Dasar dialisis adalah adanya darah yang
mengalir dibatasi selaput semi permiabel dengan suatu cairan (cairan dialisis) yang dibuat sedemikian
rupa sehingga komposisi elektrolitnya
sama dengan darah normal.
Dengan demikian diharapkan bahwa zat – zat yang
tidak diinginkan dari
dalam darah akan berpindah ke cairan dialisis dan kalau perlu air juga dapat ditarik kecairan
dialisis.
j. Transplantasi
Dengan pencangkokan ginjal yang sehat ke pembuluh darah pada klien end stage renal disease maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang
baru. Ginjal yang sesuai harus memenuhi beberapa persyaratan yang utama adalah bahwa ginjal tersebut diambil dari orang/ mayat yangditinjau dari segi imunologik sama dengan klien. Pemilihan dari segi imunologik ini terutama dengan
pemeriksaan HLA.
C. Hemodialisa
1. Pengertian
Hemodialisa adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisa. Hemodialisa merupakan
salah satu
bentuk terai pengganti ginjal (renal replacement therapy/RRT)
dan hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisa
dilakukan
pada penderita penyakit ginjal kronik stadium V dan pada klien dengan AKI (Acute
Kidney Injury) yang memerlukan terapi pengganti ginjal (Daurgirdas,
2011).
Hemodialisa merupakan suatu proses yang
digunakan pada klien dalam
keadaan sakit akut memerlukan terapi dialisis jangka
pendek (beberapa
hari
hingga beberapa minggu) atau klien dengan penyakit ginjal stadium
terminal/End Stage Renal Disease yang membutuhkan terapi jangka panjang atau
terapi
permanen
(Smeltzer C, 2002).
Hemodialisa dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengubahan
komposisi solut darah
oleh larutan lain (cairan dialisat) melalui membran
semipermiabel (membran dialisis). Saat ini terdapat berbagai definisi
hemodialisa, tetapi pada prinsipnya hemodialisa adalah suatu proses pemisahan atau penyaringan atau pembersihan darah melalui suatumembran yang semipermiabel yang
dilakukan pada klien dengan gangguan fungsi ginjal
baik yang kronik maupun akut (Setiati,
2014).
Hemodialisa merupakan tindakan atau terapi yang digunakan pada klien yang mengalami gangguan ginjal atau end stage renal disease. Fungsinya adalah untuk mengeluarkan hasil metabolisme tubuh yang tidak berguna. Hemodalisa
tidak menyembuhkan gagal ginjal tetapi hanya
mempertahankan kesehatan klien. Hemodialisa dilakukan 2 atau 3x
seminggu, selama 4 – 5 jam perkali terapi, ini tergantung dengan kebutuhan
klien.
Tujuan dari hemodialisa adalah untuk mengambil zat – zat nitrogen yang
toksik dari dalam darah klien ke
dializer tempat darah terebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan ketubuh klien. Ada tiga prinsip yang mendasari
kerja hemodialisa yaitu difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi. Bagi penderita end
stage renal disease, hemodialisa akan mencegah kematian. Namun demikian, hemodialisa tidak
menyebabkan penyembuhan atau pemulihan
penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas
metabolik atau endokrin yang
dilaksanakan ginjal dan tampak dari gagal ginjal
serta terapinya terhadap kualitas hidup klien (Cahyaningsih,
2009).
2. Proses Hemodialisa
Hemodialisa dilakukan dengan mengalirkan darah kedalam suatu tabung (dialiser) yang terdiri dari dua kompartemen yang terpisah. Darah klien
dipompa dan dialirkan ke kompartemen darah yang dibatasi oleh selaputsemipermeabel buatan (artifisial)
dengan kompartemen dialisat. Kompartemen dialisat dialiri cairan dialisis yang bebas pirogen, berisi
larutan dengan komposisi elektrolit mirip serum normal dan tidak mengandung sisa metabolisme nitrogen. Cairan dialisis dan darah terpisah akan mengalami
perubahan konsentrasi
karena zat terlarut berpindah dari konsentrasi yang tinggi ke arah konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi zat terlarut sama dikedua kompartemen (difusi). Pada proses dialisis, air
juga dapat berpindah dari kompartemen darah ke kompartemen cairan dialisat dengan cara menaikkan
tekanan hidrostatik negatif pada
kompartemen cairan
dialisat. Perpindahan air ini
disebut ultrafiltrasi (Sudoyo, 2009).
Besar
pori pada selaput akan
menentukan besar molekul zat terlarut yang berpindah. Molekul dengan berat molekul lebih besar akan berdifusi lebih
lambat dibanding molekul dengan berat molekul lebih rendah. Kecepatan perpindahan zat terlarut tersebut makin tinggi bila (1)
perbedaan konsentrasi di kedua kompartemen makin besar, (2) diberi tekanan hidrolik di kompartemen darah, dan (3)
bila tekanan osmotik di kompartemen cairan dialisis lebih tinggi. Cairan dialisis ini mengalir berlawanan arah dengan
darah untuk meningkatkan efisiensi. Perpindahan zat terlarut pada awalnya berlangsung cepat tetapi kemudian melambat sampai konsentrasinya sama
dikedua kompartemen (Sudoyo, 2009).
3. Komplikasi.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari tindakan hemodialisa adalah(Kuhman, 2004):
a. Nyeri dada: dapat
terjadi karena terjadi penurunan PCO2 bersamaan
dengan terjadinya sirkulasi darah diluar
tubuh
b. Pruritus: dapat terjadi selama
terapi dialisis ketika
produk akhir metabolisme
meninggalkan
kulit.
c. Gangguan keseimbangan dialisis: terjadi karena
perpindahan cairan serebral dan muncul sebagai serang kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadinya lebih besar
jika terdapat gejala uremia yang berat.
d. Malnutrisi: akibat kontrol diet dan kehilangan nutrien selama hemodialisa, 60% klien end stage renal disease yang
menjalani hemodialisa menderita malnutrisi.
e. Fatigue dan kram: klien end stage renal disease yang
menjalani hemodialisa mudah mengalami fatigue akibat hipoksia yang
disebabkan oleh edema pulmoner. Edema pulmoner terjadi akibat
retensi cairan dan sodium, sedangkan hipoksia
bisa terjadi akibat pneumonitis uremik/pleuritis uremik.
f.
Gangguan tidur: gangguan tidur umum dialami klien yang menjalani
hemodialisa, dengan faktor penyebab yang beragam. Penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan gangguan tidur akibat dari kondisi uremik yang
dialami klien. Sedangkan pada klien yang
menjalani terapi
hemodialisa gangguan tidur dapat terjadi akibat tidak adekuatnya dialysis dan berbagai faktor lain yang berpengaruh akibat dari kondisi penyakit dan
terapinya.
Klien end stage renal disease yang menjalankan terapi hemodialisa juga akan memiliki
gejala fatigue akibat malnutrisi/defisiensi nutrisi berkaitan dengan anemia,
kurangnya istirahat dan inefektivitas aktivitas. Untuk memahami konsep fatigue, dapat diuraikan pada konsep berikut.
D. Fatigue
1. Pengertian
Fatique adalah bahasa latin “fatigare” yang
berarti hilang
lenyap (waste
time). Secara
umum dpat diartikan sebagai perubahan dari keadaan yang lebih kuat keadaan yang lebih lemah. Work
Cover New South Wales dalam menerapkan peraturan di tahun 2006 pada fatigue, mendefinisikan fatigue sebagai perasaan letih yang berasal dari aktivitas fisik tubuh atau kemunduran mental tubuh. Fatigue mempengaruhi kapasitas fisik, mental dan tingkat emosional seseorang
dimana dapat mengurangi kurangnya
kewaspadaan, ditandai dengan kemunduran reaksi pada sesuatu dan
berkurangnya kemampuan motorik (Australian Safty and Compensation
Council, 2006).Fatigue dapat juga
didefinisikan sebagai penurunan kapabilitas untuk bekerja fisik atau mental, atau perasaan subjektif sehingga seseorang
tidak
dapat lagi mengerjakan
tugasnya, dan merupakan fungsi dari kurangnya tidur, perubahan ritme sirkadian dan waktu bertugas. Fatigue juga
didefinisikan sebagai perasaan lelah secara fisik atau mental yang
dialami oleh seseorang baik ditunjukkan oleh perasaan subjektif maupun penurunan
kinerja (Horigan, 2012). Fatigue sebagi rasa lelah yang dirasakan seseorang.
Menurutnya dalam kondisi fisiologi normal, fatigue dapat berupa perasaan
merasa lemah atau lelah sebagai dampak
dari penggunaan tenaga berulang atau berupa penurunan respon sel, jaringan, atau organ setelah stimulasi yang berlebihan.
1. Klasifikasi Fatique
Fatigue umum dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkatnya (Priyanto,2010), diantaranya:
a. Physical fatique, dapat terjadi ketika seseorang mulai mengurangi kemampuan fisik yang digunakan dari biasanya karena jenis pekerjaan yang sangat
banyak pada setiap jam kerjanya. Pada umumnya seseorang
dapat berkerja secara terus menerus dalam waktu 50 menit perjam atau
35% pada 8 jam kerja digunakan sebagai aktivitas fisik maksimal untuk menghindari adanya fatigue.
b. Circadian fatique, ditandai dengan denyut nadi yang lemah, pelan atau cepat.
c. Acute fatique, terjadi pada suatu aktivitas tubuh/otot, terutama dikarenakan
banyak
menggunakan otot, gangguan kebisingan
dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena
suatu organ atau seluruh
tubuh bekerja secara terus menerus dan melebihi kapasitas tubuh. Fatigue ini akan hilang dengan istirahat cukup atau menghilangkan gangguan – gangguannya.
d. Commulative Fatique, adalah fatigue yang disebabkan fatigue fisik atau mental yang terjadi pada periode waktu tertentu. Salah satu penyebab fatigue ini adalah
kurangnya waktu istirahat.Fatigue yang
dialami klien end stage renal disease yang
menjalankan hemodialisa dapat dikategorikan fatigue fisik dan fatigue mental (Horigan,2012). Fatigue fisik adalah
kurangnya kekuatan fisik dan energi yang membuat mereka merasa lemas, lelah seperti tidak bertenaga. Fatigue fisik timbul disebabkan oleh terjadinya anemia, kurang nafsu makan, aktivitas
rutin yang berlebihan. Fatigue mental adalah fatigue mental yang membuat klien merasa bosan dalam menjalani terapi hemodialisa secara
terus
menerus dan merasa tidak memiliki harapan hidup. Chronic fatique, merupakan fatigue yang terus menerus terakumulasi dalam tubuh akibat daritugas yang
terus menerus tanpa pengaturan jarak tugas yang baik atau teratur. Fatigue ini
berlangsung setiap
hari, berkepanjangan dan bahkan
telah terjadi sebelum memulai suatu pekerjaan. Fatigue ini diperoleh dari
tugas terdahulu yang belum hilang
hingga diteruskan dengan tugas kerja selanjutnya, berkelanjutan setiap harinya dan tingkat fatiguenya akan semakin
bertambah.
Penelitian yang
dilakukan Sulistini (2012) tentang faktor – faktor yang mempengaruhi fatigue pada klien yang menjalani hemodialisa
menyimpulkan bahwa pasien yang
menjalani hemodialisa cenderung mengalami fatigue dan banyak faktor yang berhubungan dengan kondisi
tersebut seperti faktor fisik, sosial ekonomi, demografi dan situasional.
Peran perawat dalam memberikan intervensi keperawatan selalu menggunakan pendekatan yang holistic untuk mendapatkan hadil yang efektif dalam
pemberian asuhan keperawatan. Penelitian yang dilakukan Sodikin dan Suparti (2015) tentang fatigue pada gagal gnjal terminal yang menjalani hemodialisa menyimpulkan bahwa sebagian responden mengalami fatigue sedang
(67%), diikuti masing – masing mengalami fatigue ringan dan berat (16,5%). Tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, akses hemodialisa dan lamanya hemodialisa terhadap tingkat fatigue dengan
p value > 0,05. Sedangkan ada hubungan antara
riwayat olahraga
klien dengan tingkat fatigue pasien hemodialisa dengan p
value < 0,02.
3. Alat Ukur Fatigue
Alat
ukur fatigue dapat dilakukan dengan pengukuran Visual Analogue Scale for Fatigue (VAS - F) adalah
jenis pengukuran untuk menentukan derajat atau tingkat kelelahan dari seseorang, pengukuran ini dilakukan
dengan cara responden mengisi skala dari angka 0 - 10 yang
sudah disediakan oleh peneliti,
nilai
0 adalah nilai normal
sedangkan nilai 10 adalah kondisi sangat lelah. 0 = tidak merasa lelah, 1-3 = merasa lelah ringan, 4-6 = merasa lelah sedang, 7-9 = merasa lelah berat, 10 = lelah sangat berat (Stanford, 2012).
Sistem urinaria atau saluran
kemih terdiri dari ginjal, kandung kemih, ureter, dan juga uretra (saluran
kencing). Setiap bagian dalam sistem urinaria memiliki fungsi dan peranannya
masing-masing. Melalui saluran kemih, urine yang membawa limbah dan racun akan
dikeluarkan dari dalam tubuh.
Bagian dari Sistem Urinaria dan
Fungsinya
Urine adalah
limbah cair yang terdiri dari air, garam, dan zat sisa metabolisme tubuh,
seperti urea dan asam urat. Agar proses berkemih atau buang air kecil berlangsung
normal, semua bagian dalam sistem urinaria perlu bekerja dengan baik.
Berikut ini adalah
organ-organ yang tergolong dalam sistem urinaria beserta fungsinya:
1. Ginjal
Tubuh manusia memiliki
sepasang ginjal yang
terletak di area punggung kiri dan kanan, tepat di bawah tulang rusuk bagian
belakang. Masing-masing ginjal memiliki ukuran sebesar kepalan tangan orang
dewasa dan berbentuk menyerupai kacang.
Fungsi utama ginjal adalah
mengatur jumlah air dalam darah, menyaring zat limbah atau sisa metabolisme
tubuh, menghasilkan hormon yang berfungsi untuk mengendalikan tekanan darah dan
produksi sel darah merah, serta mengatur pH atau tingkat keasaman darah.
2. Ureter
Ureter adalah bagian dari
sistem urinaria yang berbentuk menyerupai saluran pipa atau tabung. Ureter
berfungsi untuk mengalirkan urine dari masing-masing ginjal untuk ditampung di
kandung kemih.
3. Kandung kemih
Organ yang berada di dalam
perut bagian bawah ini bertugas menyimpan urine. Jika kandung
kemih sudah terisi penuh oleh urine, akan timbul dorongan
untuk buang air kecil. Kandung kemih orang dewasa mampung menampung urine
hingga 300–500 ml.
4. Uretra
Uretra atau saluran kencing
adalah saluran yang menghubungkan antara kandung kemih ke lubang saluran kemih
pada ujung penis atau vagina.
Uretra pada pria memiliki
panjang sekitar 20 cm, sedangkan uretra pada wanita hanya sekitar 4 cm saja.
Pada bagian antara kandung kemih dan uretra terdapat cincin otot atau sfingter yang
bertugas menjaga urine agar tidak bocor.
Berbagai Penyakit pada Sistem Urinaria
Gangguan pada sistem
urinaria dapat terdeteksi dari perubahan warna urine. Urine yang sehat dan
normal umumya berwarna jernih, kekuningan, hingga kuning keemasan. Warna urine
tersebut berasal dari zat yang disebut urokrom. Namun, konsumsi makanan dan
obat tertentu terkadang juga dapat mengubah warna
urine.
Adanya masalah pada sistem
urinaria atau saluran kemih tidak hanya ditandai dengan perubahan warna urine.
Berikut ini adalah beberapa masalah atau penyakit yang dapat terjadi pada
sistem urinaria:
1. Infeksi saluran kemih
Infeksi
saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi di bagian mana pun dari
sistem urinaria, mulai dari ginjal hingga saluran kemih. Wanita berisiko lebih
besar terkena ISK dibandingkan pria. Hal ini dikarenakan jarak antara lubang
saluran kemih dan anus pada wanita lebih dekat.
2. Batu saluran kemih
Batu saluran kemih (urolithiasis)
adalah kondisi ketika terbentuk batu di sistem urinaria, seperti batu
ginjal, batu ureter, atau batu
kandung kemih. Ukuran batu umumnya bervariasi. Semakin besar ukuran batu
yang terbentuk, semakin besar pula risiko batu tersebut menyumbat aliran urine
dan menimbulkan penyakit.
3. Inkontinensia urine
Inkontinensia
urine adalah kondisi ketika fungsi otot atau saraf pada
kandung dan saluran kemih mengalami gangguan, sehingga tidak dapat
mengendalikan proses buang air kecil.
Penyakit ini bisa membuat
Anda tiba-tiba mengompol, terlebih saat batuk atau bersin. Inkontinensia urine
sering terjadi pada lansia, namun tidak menutup kemungkinan orang yang lebih
muda juga mengalaminya.
4. Uretritis
Uretritis adalah
peradangan pada uretra. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri
di saluran kemih. Uretritis dapat menyebabkan rasa nyeri dan dorongan untuk
lebih sering buang air kecil.
5. Sindrom nefrotik
Sindrom
nefrotik adalah kelainan ginjal yang menyebabkan kadar protein
di dalam urine meningkat. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kerusakan pada
pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi untuk menyaring limbah dan
kelebihan air dari darah. Sindrom nefrotik dapat disebabkan oleh berbagai hal,
misalnya riwayat infeksi dan peradangan.
Sindrom nefrotik dapat
menyebabkan gejala seperti urine berbusa, kelelahan, tidak nafsu makan, serta
pembengkakan di kaki, wajah, dan berbagai bagian tubuh, seperti wajah dan
sekitar mata.
6. Sindrom nefritik
Sindrom
nefritik adalah pembengkakan atau peradangan pada ginjal.
Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri panggul, buang air kecil lebih sering dan
terasa nyeri, urine tampak keruh atau kemerahan, sakit pinggang atau perut,
serta pembengkakan di wajah dan kaki. Jika tidak segera diobati, sindrom
nefritik dapat menyebabkan gagal ginjal.
7. Gagal ginjal
Gagal ginjal terjadi ketika
ginjal tidak mampu menyaring darah dan membuang cairan serta zat limbah tubuh.
Kerusakan ginjal yang
menyebabkan gagal ginjal dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari efek
samping obat-obatan, cedera berat pada ginjal, dehidrasi, hingga penyakit
tertentu, seperti hipertensi dan diabetes menahun yang tidak ditangani dengan
baik.
Ketika mengalami gagal
ginjal, seseorang akan mengalami beberapa gejala seperti berkurangnya jumlah
urine, tidak buang air kecil sama sekali selama berhari-hari, pembengkakan di
kaki, sesak napas, lemas, hingga pucat.
Jika Anda mengalami masalah
pada sistem urinaria, terlebih jika disertai keluhan seperti demam, nyeri
pinggang atau punggung yang sangat berat, nyeri saat berkemih, dan terdapat
darah atau nanah pada urine, segera konsultasikan ke dokter
urologi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Diagnosis dan penanganan
yang tepat akan mencegah kerusakan sistem urinaria, sehingga kondisi tersebut
dapat diobati dengan baik. Hal ini penting dilakukan guna mencegah terjadinya
komplikasi lebih lanjut akibat kerusakan berat pada sistem urinaria berat.
Proses Pembentukan Urine di Dalam Tubuh
Proses pembentukan urine
adalah salah satu cara alami tubuh untuk mengeluarkan zat sisa metabolism,
racun tubuh, dan kelebihan kadar air untuk memelihara kesehatan. Proses di
dalam sistem urine ini melibatkan beberapa organ, seperti ginjal, kandung
kemih, dan saluran kemih.
Zat-zat sisa atau produk
sampingan dari metabolisme butuh dikeluarkan oleh tubuh melalui pengeluaran
urine dan tinja. Semakin banyak cairan yang dikonsumsi, maka semakin banyak
urine yang akan dihasilkan oleh tubuh.
Urine merupakan
hasil penyaringan darah oleh ginjal dan
dikeluarkan tubuh melalui saluran kemih, yaitu salah satu bagian dari sistem
urinaria.
Proses Pembentukan Urine
Pembentukan urine dimulai
dari ginjal. Di ginjal, ada 3 proses utama pembentukan urine, yaitu filtrasi,
sekresi, dan reabsorpsi. Hasil dari ketiga proses inilah yang disebut dengan
ekskresi (pengeluaran) ginjal dalam bentuk urine. Berikut adalah penjelasan
mengenai ketiga proses pembentukan urin:
Filtrasi
Pada tahap ini, ginjal
menerima aliran darah yang membawa air dan zat sisa metabolisme dari dalam
tubuh seperti urea. Kemudian, nefron di dalam ginjal akan menyaring darah yang
mengalir masuk ke dalam ginjal untuk membuang racun dan zat sisa metabolisme
tubuh.
Reabsorpsi
Setelah filtrasi, proses
masuk ke tahap reabsorpsi, yaitu penyerapan kembali air dan zat-zat yang masih
diperlukan oleh tubuh, seperti elektrolit, garam,
dan protein.
Sekresi tubular
Pada tahap sekresi tubular,
zat-zat tertentu dari pembuluh darah kapiler akan dibuang ke tubulus ginjal.
Setelah ketiga tahapan ini selesai, terbentuklah urine.
Urine kemudian akan
dialirkan dari ginjal ke kandung kemih melalui ureter. Kandung kemih akan
menampung urine yang dihasilkan dari ginjal. Setelah ditampung di kandung
kemih, pada proses pembuangan, urine akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
saluran kemih.
Gangguan yang Disebabkan Terhambatnya
Pengeluaran Urine
Seperti yang sudah
dijelaskan di atas, urine bermanfaat untuk mengeluarkan limbah dan racun dari
dalam tubuh. Namun jika ada gangguan di sistem saluran kemih dalam memproduksi
urine (misalnya anuria atau
kondisi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan urine), akibatnya akan berbahaya
bagi tubuh. Misalnya pada penyakit gagal
ginjal dan batu ginjal.
Nah, agar
proses pembentukan urine di dalam tubuh kita dapat terus berjalan dengan baik,
disarankan untuk minum air
putih yang cukup, setidaknya sebanyak 2 hingga 3 liter
sehari. Untuk memelihara kesehatan ginjal, disarankan pula untuk menjaga pola
makan sehat dengan membatasi asupan garam dan gula, rutin olahraga, istirahat
yang cukup, serta hindari minuman beralkohol dan merokok.
Jika terdapat masalah pada
sistem urine, termasuk jika mengalami kencing berdarah, terdapat
pembengkakan di seluruh tubuh, merasa lemas, dan gejala yang mengarah pada
adanya masalah pada organ yang berperan dalam proses pembentukan urine,


Komentar
Posting Komentar